Kamis, 13 Desember 2012

uji karbohidrat

UJI KARBOHIDRAT I. TINJAUAN TEORITIS Karbohidrat merupakan salah satu senyawa organik biomakromolekul alam yang banyak ditemukan dalam makhluk hidup terutama tanaman. Pada tanaman yang berklorofil,karbohidrat dibentuk melalui reaksi antara karbondioksida dan molekul air dengan bantuan sinar matahari, disebut fotosientesis. nCO2+ nH2O (CH2O)n + nO2 Karbohidrat memegang peranan penting dalam alam karena merupakan sumber energi utama bagi umat manusia dan hewan yang harganya relatif murah. Karbohidrat yang dihasilkan adalah karbohidrat sederhana glukosa. Di samping itu dihasilkan oksigen (O2) yang lepas di udara . Karbohidrat merupakan bahan yang sangat diperlukan tubuh manusia, hewan dan tumbuhan di samping lemak dan protein. Senyawa ini dalam jaringan merupakan cadangan makanan atau energi yang disimpan dalam sel. Karbohidrat yang dihasilkan oleh tumbuhan merupakan cadangan makanan yang disimpan dalam akar, batang, dan biji sebagai pati (amilum). Karbohidrat dalam tubuh manusia dan hewan dibentuk dari beberapa asam amino, gliserol lemak, dan sebagian besar diperoleh dari makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan Berdasarkan pernyataan di atas bahwa sebagian besar karbohidrat diperoleh dari makanan akan tetapi terkadang kita tidak mengetahui bahwa karbohidrat jenis apa yang kita makan dan bagaimana sifat-sifat serta fungsi dari karbohidrat tersebut. Oleh karena itu dilakukanlah percobaan mengenai karbohidrat ini. 1. Uji Molisch Untuk membuktikan adanya karbohidrat secara kualitatif. 2. Uji Iodium Untuk menentukan polisakarida. 3. Uji Benedict Membuktikan adanya gula reduksi. 4. Uji Barfoed Membedakan antara monosakarida dan disakarida. 5. Uji Seliwanoff Membuktikan adanya kentosa. 6. Uji Osazon Membedakan bermacam-macam karbohidrat dari gambar kristalnya. 7. Uji Asam Musat Membedakan antara glukosa dan galaktosa. 8. Hidrolisis Pati Mengidentifikasi hasil hidrolisis Amilum (pati). 9. Hidrolisis Sukrosa Mengidentifikasi hasil hidrolisis sukrosa. 2. TUJUAN PERCOBAAN 1.Mengidentifikasi adanya karbohidrat dalam suatu bahan. 2.Mengetahui adanya reaksi-reaksi yang terjadi pada identifikasi 3. Mengetahui beberapa sifat kimia karbohidrat. 3. PRINSIP PERCOBAAN 1. Uji Molisch Dilakukan untuk menentukan karbohidrat secara kualitatif. Larutan uji dicampur dengan pereaksi Molisch kemudian dialirkan H2SO4 dengan hati-hati melalui dinding tabung agar tidak bercampur. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya cincin berwarna ungu pada batas antara kedua lapisan. 2. Uji Iodium Dilakukan untuk menentukan polisakarida. Larutan uji dicampurkan dengan larutan iodium. Hasil positif ditandai dengan amilum dengan iodium berwarna biru, dan dekstrin dengan iodium berwarna merah anggur. 3. Uji Benedict Dilakukan untuk membuktikan adanya gula pereduksi. Larutan uji dicampurkan dengan pereaksi Benedict kemudian dipanaskan. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya endapan berwarna biru kehijauan, merah, atau kuning tergantung kadar gula pereduksi yang ada. 4. Uji Barfoed Dilakukan untuk membedakan antara monosakarida dan disakarida. Larutan uji dicampurkan dengan pereaksi Barfoed kemudian dipanaskan. Hasil positif ditunjukkan dengan monosakarida menghasilkan endapan Cu2O berwarna merah bata. 5. Uji Seliwanoff Dilakukan untuk membuktikan adanya kentosa (fruktosa). Larutan uji dicampurkan dengan pereaksi Seliwanoff kemudian dipanaskan. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya larutan berwarna merah orange. 6. Uji Osazon Semua karbohidrat yang mempunyai gugus aladehida atau keton bebas membentuk hidrazon atau osazon bila dipanaskan bersama fenilhidrazin berlebih. Osazon yang terjadi mempunyai bentuk kristal dan titik lebur yang spesifik. Osazon dari disakarida larut dalam air mendidih dan terbentuk kembali bila didinginkan. Namun, sukros tidak membentuk osazon karena gugus aldehida atau keton yang terikat pada monomernya sudah tidak bebas. Sebaliknya, osazon monosakarida tidak larut dalam air mendidih. 7. Uji Asam Musat Dilakukan untuk membedakan antara glukosa dan galaktosa. Larutan uji dicampurkan dengan HNO3 pekat kemudian dipanaskan. Karbohidrat dengan asam nitrat pekat akan menghasilkan asam yang dapat larut. Namun, laktosa dan galaktosa menghasilkan asam musat yang dapat larut. 8. Hidrolisis Pati Untuk mengidentifikasi hasil hidrolisis amilum digunakan larutan amilum 1%, larutan iodium, pereaksi Benedict, larutan HCl 2 N, Larutan NaOH 2%. Amilum ditambahkan dengan HCl lalu dipanaskan. Dilakukan uji iodium setiap 3 menit hingga warnanya berubah jadi kuning pucat. Kemudian larutan dihidrolisis lagi selama 5 menit lalu didinginkan dan dinetralkan dengan NaOH 2%,. Lalu diuji dengan pereaksi Benedict. 9. Hidrolisis Sukrosa Untuk mengidentifikasi hasil hidrolisis sukrosa digunakan larutan sukrosa 1%, pereaksi Benedict, pereaksi Seliwanoff, pereaksi Barfoed, larutan HCl pekat, larutan NaOH 2% sebagai bahannya. larutan sukrosa ditambahkan dengan HCl pekat lalu dipanaskan selama 45 menit. Setelah didinginkan dinetralkan dengan NaOH 2%. Lalu diuji dengan pereaksi Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed. III. ALAT DAN BAHAN 1. Uji Molisch Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi, rak tabung, dan pipet tetes. Bahan yang digunakan adalah amilum, dekstrin, sukrosa, laktosa, maltosa, galaktosa, fruktosa, glukosa dan arabinosa masing-masing dalam larutan 1%, pereaksi Molisch, dan H2SO4 pekat. 2. Uji Iodium Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi, rak tabung, dan pipet tetes. Bahan yang digunakan adalah amilum,dekstrin, sukrosa, laktosa, maltosa, galaktosa, fruktosa, glukosa dan arabinosa masing-masing dalam larutan 1%, dan larutan iodium. 3. Uji Benedict Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi, pipet tetes, alat pemanas atau penangas air, penjepit tabung, rak tabung, dan pengatur waktu. Bahan yang digunakan adalah amilum, dekstrin, sukrosa, laktosa, maltosa, galaktosa, fruktosa, glukosa dan arabinosa masing-masing dalam larutan 1%, dan pereaksi Benedict. 4. Uji Barfoed Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi, pipet tetes, alat pemanas atau penangas air, pengatur waktu, rak tabung, dan penjepit tabung. Bahan yang digunakan adalah sukrosa, laktosa, maltosa, galaktosa, fruktosa, glukosa dan arabinosa masing-masing dalam larutan 1%, dan pereaksi Barfoed. 5. Uji Seliwanoff Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi, pipet tetes, alat pemanas atau penangas air, pengatur waktu, rak tabung, penjepit tabung. Bahan yang digunakan adalah sukrosa, galatosa, fruktosa, glukosa, dan arabinosa dalam larutan 1%, serta pereaksi Seliwanoff. 6. Uji Osazon Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah mikroskop, alat pemanas, tabung reaksi, dan pipet ukur,spatula baja. Bahan yang digunakan adalah sukrosa, maltosa, galaktosa, glukosa, fenilhidrazin-hidroklorida dan natrium asetat. 7. Uji Asam Musat Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi, pipet tetes, alat pemanas atau penangas air, mikroskop, pengatur waktu, dan penjepit tabung. Bahan yang digunakan adalah sukrosa, laktosa, maltosa, galaktosa, glukosa, dan HNO3 pekat. 8. Hidrolisis Pati Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi, pipet tetes, pemanas air, penjepit tabung, pengatur waktu, dan rak tabung. Bahan yang digunakan adalah larutan amilum 1%, larutan iodium, pereaksi Benedict, larutan HCl 2 N, larutan NaOH 2%, dan kertas lakmus. 9. Hidrolisis Sukrosa Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi, pipet tetes, alat pemanas air, penjepit tabung, pengatur waktu, dan rak tabung. Bahan yang digunakan adalah larutan sukrosa 1%, pereaksi Benedict, pereaksi Seliwanoff, pereaksi Barfoed, larutan HCl pekat, larutan NaOH 2%, dan kertas lakmus. III. 2 PROSEDUR PERCOBAAN 1. Uji Molisch 1. Dua tetes larutan uji, dimasukkan ke dalam tabung reaksi. 2. Kemudian ditambahkan 3 tetes pereaksi molisch. Dan dicampur dengan baik. 3. Tabung reaksi dimiringkan, kemudian dialirkan dengan hati-hati 1 ml H2SO4 pekat melalui dinding tabung agar tidak bercampur. 2. Uji Iodium 1. 2 ml larutan uji dimasukkan ke dalam tabung reaksi atau porselin tetes. 2. Kemudian ditambahkan dua tetes larutan iodium. 3. Kemudian warna spesifik yang tebentuk diamati. 3. Uji Benedict 1. 5 tetes larutan uji dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 15 tetes pereaksi benedict. Campurlah dengan baik. 2. Didihkan di atas api kecil selama dua menit atau dimasukkan ke dalam penaNgas air mendidih selama 5 menit. 3. Didinginkan perlahan-lahan. 4. Diperhatikan warna atau endapan yang terbentuk. 4. Uji Barfoed 1. 10 tetes larutan uji dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 10 tetes pereaksi berford. Campurkan dengan baik. 2. Kemudian dipanaskan di atas api kecil sampai mendidih selama satu menit atau dimasukkan ke dalam penangas air mendidih selama 5 menit. 3. Diperhatikan warna endapan yang terbentuk! 5. Uji Seliwanoff 1. 5 tetes larutan uji dan 15 tetes pereaksi seliwanoff dimasukkan ke dalam tabung reaksi. 2. Kemudian dididihkan di atas api kecil selama 30 detik atau dalam penangas air mendidih selama 1 menit. 3. Hasil positif ditandai terbentuknya larutan berwarna merah orange. 6. Uji Osazon 1. 2 ml larutan uji dimasukkan kedalam tabung reaksi. 2. Kemudian ditambahkan seujung spatel fenihidrasin-hidroklorida dan kristal natrium asetat. 3. Lalu dipanaskan dalam penangas air mendidih selama 20 menit. 4. Kemudian didinginkan perlahan-lahan di bawah air kran. 5. Diperhatikan kristal yang dibentuk kemudian diidentifikasi di bawah mikroskop. 7. Uji Asam Musat 1. 10 tetes larutan uji dan 2 tetes HNO3 pekat dimasukkan di dalam tabung reaksi. 2. Selanjutnya dipanaskan dalam penangas air mendidih sampai volumenya kira-kira tinggal 2-3 tetes. 3. Lalu didinginkan perlahan-lahan, dan perhatikan terbentuknya kristal-kristal keras seperti pasir. 4. Selanjutnya diamati di bawah mikroskop. 8. Uji Hidrolisis Pati 1. Amilum dengan volume 5 ml 1% dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 2,5 ml HCL 2 N. 2. Kemudian dicampurkan dengan baik, lalu dimasukkan ke dalam penangas air mendidih. 3. Setelah 3 menit, diuji dengan iodium dengan mengambil 2 tetes larutan dalam porselin tetes. Kemudian dicatat perubahan warna yang terjadi. 4. Selanjutnya, dilakukan uji iodium setiap 3menit sampai hasilnya berwarna kuning pucat. 5. Lalu dilanjutkan hidrolisis selama 5 menit lagi. 6. Setelah didinginkan, diambil 2 ml larutan hidrolisis, dan dinetralkan dengan NaOH 2%. Diuji dengan kertas lakmus. 7. Selanjutnya, diuji dengan benedict (15 tetes benedict dan 5 tetes larutan). 8. Terakhir, hasil eksperimen hidrolisis pati disimpulkan. 9. Uji Hidrolisis Sukrosa 1. Sukrosa dengan volume 5 ml sukrosa 1 % kedalam tabung reaksi dan ditambahkan 5 tetes HCl pekat. 2. Dicampur dengan baik, lalu dipanaskan dengan penangas air mendidih selama 30 menit. 3. Setelah didinginkan, dinetralkan dengan NaOH 2 % dan diuji dengan kertas lakmus. 4. Selanjutnya, diuji dengan benedict, seliwanoff, dan berfoed. 5. Terakhir, disimpulkan hasil dari eksperimen hidrolisis sukrosa. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV. 1 HASIL PENGAMATAN IV.1.1 TABEL 1. Uji Molisch NO. ZAT UJI HASIL UJI MOLISCH KARBOHIDRAT (+/-) 1. Amilum 1% Terbentuk cincin ungu + 2. Dekstrin 1% Terbentuk cincin ungu + 3. Sukrosa 1% Terbentuk cincin ungu + 4. Maltosa 1% Terbentuk cincin ungu + 5. Galaktosa 1% Terbentuk cincin ungu + 6. Fruktosa 1% Terbentuk cincin ungu + 7. Glukosa 1% Terbentuk cincin ungu + 8. Arabinosa 1% Terbentuk cincin ungu + 2. Uji Iodium NO. ZAT UJI HASIL UJI IODIUM POLISAKARIDA (+/-) 1. Amilum 1% Biru + 2. Dekstrin 1% Merah anggur + 3. Sukrosa 1% Kuning - 4. Maltosa 1% Kuning - 5. Galaktosa 1% Kuning - 6. Fruktosa 1% Kuning - 7. Glukosa 1% Kuning - 8. Arabinosa 1% Kuning - 3. Uji Benedict NO ZAT UJI HASIL UJI BENEDICT GULA REDUKSI (+/-) 1. Amilum 1% Biru - 2. Dekstrin 1% Hijau - 3. Sukrosa 1% Endapan Merah Bata + 4. Maltosa 1% Endapan Merah Bata + 5. Galaktosa 1% Endapan Merah Bata + 6. Fruktosa 1% Endapan Merah Bata + 7. Glukosa 1% Endapan Merah Bata + 8. Arabinosa 1% Endapan Merah Bata + 4. Uji Barfoed NO. ZAT UJI HASIL UJI BARFOED MONOSAKARIDA (+/-) 1. Sukrosa 1% Biru + 2. Maltosa 1% Biru - 3. Galaktosa 1% Merah Bata + 4. Fruktosa 1% Orange (endapan merah bata) + 5. Glukosa 1% Merah Bata + 6. Arabinosa 1% Merah Bata + 5. Uji Seliwanoff NO. ZAT UJI HASIL UJI SELIWANOFF KETOSA (+/-) 1. Sukrosa 1% Kuning keorengan - 2. Galaktosa 1% Kuning Bening - 3. Fruktosa 1% Merah Orange + 4. Glukosa 1% Bening - 5. Arabinosa 1% Kuning - 6. Uji Osazon NO ZAT UJI HASIL UJI OSAZON GAMBAR 1. Sukrosa Tidak terdapat kristal 2. Maltosa Ada kristal, namun jarang 3. Galaktosa Terdapat kristal, namun sedikit 4. Glukosa Terdapat kristal 7. Uji Asam Musat NO ZAT UJI HASIL UJI ASAM MUSAT GAMBAR 1. Amilum Tidak terdapat kristal 2. Glikogen Tidak terdapat kristal 3. Galaktosa Terdapat kristal, namun sedikit 4. Fruktosa Tidak terdapat kristal 8. Hidrolisis Pati NO HIDROLISIS (MENIT) HASIL UJI IODIUM HASIL 1. 3 Biru kehitaman Amilosa 2. 6 Ungu Amilopektin 3. 9 Kuning coklat Akrodekstrin 4. 12 Kuning pucat Glukosa Hasil akhir dengan uji Benedict : Terbentuk endapan merah bata 9. Hidrolisis Sukrosa PERLAKUAN UJI HASIL UJI 5 tetes larutan Benedict (dipanaskan) Sebelum dipanaskan : biru muda Setelah dipanaskan : merah bata 5 tetes larutan Seliwanoff Oranye 5 tetes larutan Barfoed (dipanaskan) Sebelum dipanaskan : biru muda Setelah dipanaskan : biru muda IV.1.2 PEMBAHASAN 1. Uji Molisch Berdasarkan percobaan ini diperoleh data bahwa semua larutan uji ketika direaksikan dengan pereaksi Molisch, dapat membentuk kompleks cincin berwarna ungu. Dengan bahan yang diujikan adalah amilum, dekstrin, sukrosa, maltosa, galaktosa, fruktosa, glukosa, dan arabinosa semuanya menunjukkan hasil yang positif. Hal ini membuktikan adanya suatu karbohidrat dalam larutan tersebut. Larutan uji yang telah dicampurkan dengan pereaksi Molisch, dialirkan dengan larutan H2SO4 pekat dengan cara memiringkan tabung reaksi. Hal ini dilakukan agar larutan H2SO4 tidak bercampur dengan larutan yang ada dalam tabung, sehingga pada akhir reaksi diperoleh suatu pembentukan cincin berwarna ungu pada batas antara kedua lapisan larutan dalam tabung. Terbentuknya kompleks berwarna ungu ini karena pengaruh hasil dehidrasi monosakarida (furfural) dengan α-naftol dari pereaksi Molisch. Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut : H O │ ║ CH2OH—HCOH—HCOH—HCOH—C=O +H2SO4 → ─C—H + │ OH Pentosa Furfural α-naftol H │ CH2OH—HCOH—HCOH—HCOH—HCOH—C=O + H2SO4 Heksosa O ║ → H2C─ ─C—H + │ │ OH OH 5-hidroksimetil furfural α-naftol Rumus dari cincin ungu yang terbentuk adalah sebagai berikut: O ║ ║ ¬__SO3H H2C─ ─────C───── ─OH Cincin ungu senyawa kompleks 2. Uji Iodium Pada percobaan ini, suatu polisakarida dapat dibuktikan dengan terbentuknya kompleks adsorpsi yang spesifik pada setiap jenis polisakarida ini. Di mana amilum dengan iodium menghasilkan larutan berwarna biru pekat dan dekstrin yang menghasilkan warna larutan merah anggur yang menandakan hasil positif terhadap kandungan polisakarida tetapi untuk larutan uji monosakarida dan disakarida tidak menghasilkan warna larutan yang spesifik, oleh karena itu hasil yang ditunjukkan negatif. Terbentuknya warna biru dan warna merah anggur ini disebabkan molekul amilosa dan amilopektin yang membentuk suatu molekul dengan molekul dari larutan iodium. Oleh karena itu, monosakarida dan disakarida tidak menghasilkan warna larutan yang spesifik karena tidak mengandung amilosa dan amilopektin. 3. Uji Benedict Dalam uji ini, suatu gula reduksi dapat dibuktikan dengan terbentuknya endapan yang berwarna merah bata. Akan tetapi tidak selamanya warna larutan atau endapan yang terbentuk berwarna merah bata, hal ini bergantung pada konsentrasi atau kadar gula reduksi yang dikandung oleh tiap-tiap larutan uji . Dekstrin, maltosa, galaktosa, fruktosa, glukosa dan arabinosa menunjukkan hasil yang positif. Terbentuknya endapan merah bata ini sebagai hasil reduksi ion Cu2+ menjadi ion Cu+ oleh suatu gugus aldehid atau keton bebas yang terkandung dalam gula reduksi yang berlangsung dalam suasana alkalis (basa). Sifat basa yang dimilki oleh pereaksi Benedict ini dikarenakan adanya senyawa natrium karbonat. Selain itu, amilum dan sukrosa tidak membentuk endapan merah bata dan warna larutan setelah dipanaskan menjadi biru. Hal ini membuktikan amilum dan sukrosa tidak mengandung gula pereduksi, oleh karena itu amilum dan sukrosa memperlihatkan hasil yang negatif. Berikut reaksi yang berlangsung: O O ║ ║ R—C—H + Cu2+ 2OH- → R—C—OH + Cu2O(s)  + H2O Gula Pereduksi Endapan Merah Bata 4. Uji Barfoed Pada percobaan ini, diperoleh data bahwa suatu monosakarida dapat dibedakan dengan disakarida yang dapat diamati dari terbentuknya endapan merah bata pada senyawa glukosa, galaktosa, fruktosa dan arabinosa, sedangkan pada zat uji lainnya tidak terbentuk endapan merah bata, sehingga dianggap sebagai disakarida. Sama halnya dengan pereaksi Benedict, pereaksi Barfoed ini juga mereduksi ion Cu2+ menjadi ion Cu+ . Pada dasarnya, monosakarida dapat mereduksi lebih cepat dibandingkan dengan disakarida. Disakarida dengan konsentrasi rendah tidak memberikan hasil positif oleh karena itu, larutan uji disakarida tidak membentuk warna merah orange pada percobaan ini. O O ║ Cu2+ asetat ║ R—C—H + ─────→ R—C—OH + Cu2O(s)  + CH3COOH n-glukosa Kalor E.merah monosakarida bata 5. Uji Seliwanoff Pada uji ini diperoleh data bahwa hanya fruktosa yang menghasilkan warna larutan yang spesifik yakni warna merah orange yang mengidentifikasikan adanya kandungan ketosa dalam karbohidrat jenis monosakarida itu. HCl yang terkandung dalam pereaksi Seliwanoff ini mendehidrasi fruktosa menghasilkan hidroksifurfural sehingga furfural mengalami kondensasi setelah penambahan resorsinol membentuk larutan yang berwarna merah orange. Hal ini tidak dialami oleh zat uji yang lain di mana sukrosa, galaktosa, glukosa, dan arabinosa menunjukkan hasil negatif terhadap adanya ketosa. Akan tetapi sukrosa apabila dipanaskan terlalu lama dapat menunjukkan hasil yang positif terhadap pereaksi Seliwanoff. Hal ini terjadi karena adanya pemanasan berlebih menyebabkan sukrosa terhidrolisis menghasilkan fruktosa dan glukosa sehingga fruktosa inilah yang nantinya akan bereaksi dengan pereaksi Seliwanoff menghasilkan larutan berwarna merah orange. Berikut reaksinya : CH2OH OH O OH OH +HCl ║ │ │ H CH2OH ───→ H2C— —C—H + → kompleks │ berwarna OH H OH merah jingga 5-hidroksimetil furfural resorsinol 6. Uji Osazon Pada percobaan ini diperoleh data bahwa karbohidrat dapat dibedakan dari bermacam-macam gambar kristalnya. Hal ini dikarenakan semua karbohidrat yang mempunyai gugus aldehida atau keton bebas akan membentuk hidrazon atau oaszon bila dipanaskan bersama fenilhidrazin berlebih. Maltosa, fruktosa, dan glukosa pada reaksinya terbentuk kristal. Berbeda dengan sukrosa, ketika direaksikan tidak terbentuk kristal. Hal ini dikarenakan gugus aldehida atau keton yang terikat pada monomernya sudah tidak bebas. 7. Uji Asam Musat Pada percobaan ini diperoleh data bahwa glukosa dan galaktosa dapat dibedakan berdasarkan bentuk kristalnya. Sukrosa memiliki kristal yang jarang-jarang, laktosa yang bertebaran seperti pasir, galaktosa memiliki kristal terpisah-pisah, dan glukosa yang sangat jarang. Galaktosa yang dioksidasi oleh asam nitrat pekat ( HNO3 ) menghasilkan asam musat yang kurang larut dalam air dibandingkan dengan glukosa dapat larut baik dengan air. Setelah larutan diamati dibawah mikroskop dan dengan penambahan Mertion Oil yang berfungsi memperjelas gambar kristal di bawah mikroskop, maka diperoleh bentuk kristal glukosa sangat jarang dan sedikit sekali jika dibanding gambar kristal galaktosa yang cukup jarang namun tidak lebih sedikit jika dibanding dengan glukosa. Akibat dari kristal inilah sehingga asam musat glukosa lebih larut dalam air dibanding galaktosa. 8. Hidrolisis Pati Berdasarkan percobaan hidrolisis pati ini, diperoleh data bahwa hasil hidrolisis pati dengan penambahan iodium tiap 3 menit menghasilkan warna larutan yang berbeda dari warna biru hingga larutan berwarna kuning pucat. Akan tetapi, hasil percobaan yang diperolah berbeda dengan dasar teori yang digunakan sebagai acuan. Di mana, setelah menit ke enam ternyata larutan yang diberi iodium tidak berubah menjadi berwarna ungu seperti yang ditunjukkan pada data acuan. Demikian pula pada menit-menit berikutnya hingga warna memperlihatkan kuning pucat. Hal ini mungkin disebabkan karena alat yang digunakan kurang steril dan masih terkontaminasi dengan senyawa lain, ketidaktelitian praktikan dalam mereaksikan sejumlah bahan yang seharusnya sesuai dengan prosedur kerja, dan pemanasan yang berlebihan sehingga mempengaruhi hasil reaksi. Adapun hasil hidrolisis setelah dinetralkan dengan NaOH, lalu diuji dengan pereaksi Benedict akan menghasilkan larutan yang memberntuk endapan merah bata. 9. Hidrolisis Sukrosa Berdasarkan hasil percobaan hidrolisis sukrosa diperoleh data bahwa sukrosa yang ditambahkan HCl pekat dan dipanaskan serta dinetralkan dengan NaOH bila diambil beberapa tetes dan diuji dengan Benedict, sebelum dipanaskan berwarna biru ternyata setelah dipanaskan menghasilkan suatu endapan berwarna merah bata. Dengan uji Seliwanoff yang ditambah HCl pekat, sebelum dipanaskan berwarna kekuningan dan setelah dipanaskan berwarna orange. Uji seliwanoff ini menunjukkan hasil yang positif. Hal ini membuktikan bahwa pada sukrosa terkandung fruktosa setelah dihidrolisis. Sedangkan pada uji Barfoed yang sebelum dipanaskan berwarna biru bening namun setelah dipanaskan tetap berwarna biru bening. Ada beberapa faktor yang menyebabkan sukrosa tidak mengalami perubahan. Hal ini dikarenakan pada waktu percobaan, sukrosa belum terhidrolisis sempurna. Ketidaktelitian praktikan memicu tejadinya kesalahan pengamatan. Berdasarkan teori, sukrosa bereaksi postif terhadap pereaksi barfoed. Jika telah terhidrolisis sempurna menandakan bahwa sukrosa bila dipanaskan akan terhidrolisis menjadi dua senyawa monosakarida. Senyawa fruktosa dan glukosa. Monosakarida itulah yang menunjukkan reaksi dengan pereaksi tersebut. SUKROSA + HCl GLUKOSA + FRUKTOSA (disakarida) (monosakarida) (monosakarida) BAB V PENUTUP V.1 KESIMPULAN 1. Suatu karbohidrat dapat dibuktikan dengan terbentuknya cincin berwarna ungu pada amilum, dekstrin, sukrosa, maltosa, galaktosa, fruktosa, glukosa dan arabinosa. 2. Polisakarida dibuktikan dengan terbentuknya kompleks berwarna spesifik, amilum berwarna biru dan dekstrin berwarna merah anggur sehingga menandakan polisakarida. 3. Gula reduksi pada suatu karbohidrat dapat dibuktikan dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata pada maltosa, galatosa, fruktosa, glukosa dan arabinosa, hijau kekuningan pada dekstrin, dan jingga pada maltosa. 4. Monosakarida dan disakarida dapat dibedakan dengan terbentuknya endapan merah bata pada monosakarida sedangkan pada disakarida tidak terbentuk endapan merah bata. 5. Pada pengujian ketosa dibuktikan dengan terbentuknya senyawa kompleks berwarna merah orange pada fruktosa sehingga mengandung ketosa. 6. Karbohidrat tersebut dibedakan dari gambar kristalnya. Karbohidrat yang mempunyai gugus aldehida atau keton bebas akan membentuk hidrazon atau osazon. Sukrosa tidak membentuk osazon karena gugus aldehida atau keton yang terikat pada monomernya sudah tidak bebas. 7. Glukosa dan galaktosa dibedakan berdasarkan bentuk kristalnya, kristal glukosa bertebaran dan sangat jarang, sedangkan kristal galaktosa tepisah-pisah dan berjauhan. 8. Hasil hidrolisis amilum diidentifikasi dengan terbentuknya endapan merah bata dan warna larutan bening kebiruan. 9. Hasil hidrolisis sukrosa dengan pengujian Benedict menghasilkan endapan merah bata, dengan Seliwanoff berwarna orange, dan dengan Barfoed tidak berubah warna. V.2 SARAN Laboratorium harus melengkapi sarana dan prasarana untuk kebutuhan praktikum karena ketidaklengkapan sarana dan prasarana dalam laboratorium akan menghambat berlangsungnya kegiatan praktikum.   DAFTAR PUSTAKA Almatsier. S. 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama Murray, R. K. dkk. 2009. Biokimia Harper. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar